Tuesday, August 24, 2010

Panglima Besar Tidak Pernah Sakit

KOMPAS.com - Indonesia baru saja merdeka, Belanda ingkar janji. Suara bom pesawat Belanda mengagetkan Panglima Besar Jenderal Sudirman yang dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih. Anak buahnya mencoba menenangkan Sudirman, "Itu hanya anak-anak yang sedang latihan perang."

Sudirman baru saja kehilangan satu paru-parunya di meja operasi. Rasa sakit masih menyiksa. Akan tetapi, instingnya sebagai ahli taktik perang berkata, ada yang tidak beres. Sadar negara dalam keadaan genting, Sudirman menemui Presiden Soekarno di Istana Gedung Agung, Yogyakarta.

Di hadapan Soekarno, Sudirman minta izin memulai gerilya untuk menghancurkan mental Belanda. Kala itu, Soekarno melarang, "Kang Mas sedang sakit, lebih baik tinggal di kota". Sudirman menyahut, "Yang sakit Sudirman, Panglima Besar tidak pernah sakit."

Jawaban Sudirman sebelum memulai perang gerilya itu kini dituliskan pada mural berlatar belakang bendera Merah Putih di Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama. Menurut Kepala Seksi Pemandu dan Pameran Museum Mayor Riko Sahani, bangunan museum ini dulunya merupakan markas besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) saat perang kemerdekaan.

Keterbatasan fisik tak menyurutkan niat Sudirman memimpin perang gerilya. Bertolak dari rumah dinasnya di kawasan Bintaran yang kini jadi Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman, satu kompi pasukan (80 tentara) dibawa. Demi keamanan, keluarganya dititipkan di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Lahir

Sesaat setelah merdeka, Indonesia yang baru lahir mendapat cobaan bertubi-tubi. Pemberontakan pecah di mana-mana, tentara sekutu yang diboncengi Belanda kembali menancapkan kuku penjajahannya. Di tengah kekacauan itulah, rantai komando perang lahir dari Yogyakarta.

Berawal dari inisiatif Letnan Jenderal Urip Sumoharjo yang melontarkan keprihatinan "alangkah lucunya negara tanpa tentara" maka dibentuk TKR yang menjadi cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia. Melalui konferensi besar TKR pada 12 November 1945, untuk pertama kalinya, Indonesia memiliki pucuk pimpinan tertinggi angkatan perang.

Setelah mengusir tentara sekutu di Ambarawa pada Oktober 1945, Kolonel Sudirman dilantik menjadi Pimpinan Tertinggi TKR, sedangkan Urip Sumoharjo menjadi Kepala Staf Umum yang meletakkan dasar organisasi TNI. Pelantikan dilaksanakan pada 18 Desember 1945.

Dari markas besar TKR di Yogyakarta, terpancar kesatuan komando ke seluruh Tanah Air dalam mempertahankan kemerdekaan yang mulai terancam tentara Belanda maupun pemberontakan dari dalam negeri. Perang di bawah rantai komando Sudirman, antara lain, adalah perang atau palagan di Bandung yang dikenal sebagai Bandung Lautan Api. Bandung dibumihanguskan saat melawan sekutu dan Belanda November 1945-24 Maret 1946.

Perang lain di bawah komando markas besar TKR di Yogyakarta adalah Palagan Surabaya di bawah pimpinan Bung Tomo yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan 10 November. Beberapa kali pemberontakan mulai dari PKI Muso di Madiun, DI/TII di Jawa Tengah, hingga RMS di Maluku berhasil dipadamkan.

Selama perang gerilya Desember 1948-10 Juli 1949, Sudirman juga memegang rantai komando untuk serangan umum 1 Maret 1949 yang dipimpin Letnan Kolonel Soeharto.

Melalui serangan umum, tentara berhasil menguasai kembali Yogyakarta selama enam jam. Dunia menyaksikan, Indonesia masih ada dan PBB mendesak Belanda membuka jalan perundingan melalui Konferensi Meja Bundar yang berisi pengakuan terhadap kedaulatan Indonesia.

Meski tidak banyak meninggalkan catatan di wilayah yang dilintasi seperti di Bantul, perjalanan gerilya Sudirman menjadi spirit tersendiri bagi masyarakat. "Semangat dan kegigihannya tetap berjuang meski sakit seharusnya terus diteladani," ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul Suyoto. (ENY/WKM)

Thursday, August 19, 2010

PITR postgresql

If the standard methods can't be used (for ex, if the database is too big for a complete dump), another method can be used: WAL archiving.

This page describes how to use WAL archiving and PITR on an example database.
Backup ¶

The setup procedure is the following:

* Configure PITR recovery by defining an archive_command
* Restart the cluster to start WAL archiving

To make a backup:

* Connect to the database and run the pg_start_backup('label') function
* Backup the entire cluster (without stopping it)
* Connect to the database and run the pg_stop_backup() function

(Intro) WAL files ¶

At all times, postgresql maintains a WAL (write-ahead log) in the pg_xlog subdirectory of the cluster. These files are primarily used for crash-safety purposes: each operation on the database is logged in a WAL file (with a default limit of 16 MB). By default, WAL files are recycled. However, if postgresql is configured to continuously log all operations, these files can be used for backups, acting exactly like incremental backups. This has some benefits:

* Backups does not need to be perfectly consistent: you need a backup of the cluster, and some WAL files
* A complete dump of the database is not needed
* Incremental
* Continuous
* Point in time recovery: it is possible to restore the database at its state at any time since the backup

However, there are some drawbacks:

* Additional complexity
* Needs lots of space on disk
* More writes on disk (can impact performance)
* Works on the entire cluster

PITR is generally not needed: you should prefer using dumps when possible. PITR can be used for large databases, continuous backups, or high-availability.

Before trying to use PITR, you should practise, and test on a non-critical database.
Enabling WAL archiving ¶

We will configure postgresql to archive WAL files when they are complete, instead of recycling them.
(Option) Creating a test cluster ¶

Since we don't want to crash our production server, we'll create a test cluster.

# mkdir /bigstuff/pgPITR
# chown postgres:postgres /bigstuff/pgPITR
# su - postgres

$ export PGDATA=/bigstuff/pgPITR
$ /usr/lib/postgresql/8.2/bin/initdb
The files belonging to this database system will be owned by user "postgres".
This user must also own the server process.

The database cluster will be initialized with locale C.

fixing permissions on existing directory /bigstuff/pgPITR ... ok
creating subdirectories ... ok
selecting default max_connections ... 100
selecting default shared_buffers/max_fsm_pages ... 32MB/204800
creating configuration files ... ok
creating template1 database in /bigstuff/pgPITR/base/1 ... ok
initializing pg_authid ... ok
initializing dependencies ... ok
creating system views ... ok
loading system objects' descriptions ... ok
creating conversions ... ok
setting privileges on built-in objects ... ok
creating information schema ... ok
vacuuming database template1 ... ok
copying template1 to template0 ... ok
copying template1 to postgres ... ok

WARNING: enabling "trust" authentication for local connections
You can change this by editing pg_hba.conf or using the -A option the
next time you run initdb.

Success. You can now start the database server using:

/usr/lib/postgresql/8.2/bin/postgres -D /bigstuff/pgPITR
or
/usr/lib/postgresql/8.2/bin/pg_ctl -D /bigstuff/pgPITR -l logfile start

Add archive_command ¶

Edit your configuration file to add archive_command. This command can do anything you want (from a simple copy to a complex script), just remember to return 0.

For our test, we will copy files to a directory in /tmp. Stop the server, and edit the configuration:

$ vi $PGDATA/postgresql.conf
archive_command = 'cp %p /tmp/wals/%f'

Restart the server.

PostgreSQL will now work as usuel, creating WAL files in its pg_xlog subdirectory. However, when they are complete, it will copy them to the /tmp/wals/ directory.
(Option) Create a test database ¶

$ /usr/lib/postgresql/8.2/bin/pg_ctl -l /tmp/pg.log start
server starting

$ createdb test
CREATE DATABASE

$ psql test
[...]
test=# BEGIN WORK;
BEGIN
test=# CREATE TABLE dummy1 AS SELECT * FROM pg_class, pg_attribute;
SELECT
test=# COMMIT;
COMMIT
test=# select pg_size_pretty(pg_relation_size('dummy1'));
pg_size_pretty
----------------
97 MB
(1 row)
test=# \q

At this point, PostgreSQL should have archiving some files:

$ ls -al /tmp/wals/
total 98402
drwxr-xr-x 2 postgres postgres 288 Jan 6 15:00 .
drwxrwxrwt 24 root root 2304 Jan 6 14:59 ..
-rw------- 1 postgres postgres 16777216 Jan 6 15:00 000000010000000000000009
-rw------- 1 postgres postgres 16777216 Jan 6 15:00 00000001000000000000000A
-rw------- 1 postgres postgres 16777216 Jan 6 15:00 00000001000000000000000B
-rw------- 1 postgres postgres 16777216 Jan 6 15:00 00000001000000000000000C
-rw------- 1 postgres postgres 16777216 Jan 6 15:00 00000001000000000000000D
-rw------- 1 postgres postgres 16777216 Jan 6 15:00 00000001000000000000000E

Backup the cluster ¶

You need to backup the cluster directory. You can use any method you want (tar, cpio, bacula, etc). to backup the cluster directory ($PGDATA).

Note: you don't need to stop the cluster or take extra precautions.

For our example, we'll just create a tar archive. Before doing so, we just need to inform postgresql that we will create a backup using the command pg_start_backup.

$ psql test
[...]
test=# SELECT pg_start_backup('full backup');
pg_start_backup
-----------------
0/F74F118
(1 row)

test=# \q

$ tar -cvzf /tmp/pgdata.tgz $PGDATA

$ psql test
[...]
test=# SELECT pg_stop_backup();
pg_stop_backup
----------------
0/F74F118
(1 row)

test=# \q


The argument of pg_start_backup is simply a label that helps you. This will be stored in file $PGDATA_backup_label.
(option) create some tables ¶

Create one more table:

test=# BEGIN;
BEGIN
test=# CREATE TABLE dummy2 AS SELECT * FROM pg_class, pg_attribute;
SELECT
test=# COMMIT;
COMMIT

If you want to test PITR, create a table dummy3:

test=# BEGIN;
BEGIN
test=# CREATE TABLE dummy3 AS SELECT * FROM pg_class, pg_attribute;
SELECT
test=# COMMIT;
COMMIT
test=# BEGIN;
BEGIN

wait some time (remember the exact time !), then drop it:

test=# DROP TABLE dummy3;
DROP TABLE
test=# COMMIT;
COMMIT
test=# \q

(option) simulate disaster ¶

.. or just wait for it to happen ..

Here, we'll just kill brutally the server:

$ kill -9 $(head -1 $PGDATA/postmaster.pid)

Recovery ¶

At this point, your database must be stopped.

The procedure is the following:

* If possible, get data from the damaged cluster
* Restore the complete cluster backup from the archive
* Clean up the restored cluster (remove pg_xlog files and the pid file)
* If possible, copy WAL files from the damaged cluster to the restored cluster
* Create the $PGDATA/recovery.conf file
* Start the cluster
* Watch the logs, then verify the restored data

Old cluster ¶

First, we need to try to recover data from the old cluster. If it is not possible, you will still be able to recover data from you backup, but you will maybe lost data from the most recent (unarchived) WAL file.

Here, we will just rename it:

$ mv $PGDATA $PGDATA.old

Restore the cluster ¶

Restore the cluster using your favorite method.

For our example, we'll use the tar archive:

$ (cd / && tar xvzf /tmp/pgdata.tgz)
$ chmod 0700 $PGDATA

Clean up the restored directory:

$ rm $PGDATA/pg_xlog/0*
$ rm $PGDATA/postmaster.pid

Restore WAL files from the old cluster ¶

If available, you can copy the WAL files from the pg_xlog subdirectory of the damaged cluster:

$ cp -a $PGDATA.old/pg_xlog $PGDATA/

Create a recovery file ¶

Create a new file $PGDATA/recovery.conf. The only required line is restore_command:

restore_command = 'cp /tmp/wals/%f %p'
recovery_target_time = '2008-01-06 15:18:00 CET'

The recovery target time allows you to recover the most recent data (if you do not specify recovery_target_time) or at a precise time.

If you removed WAL files after archiving them from the directory (/tmp/wals), you should restore them as well.
Start the database, and witness the miracle ¶

Start the database:

$ /usr/lib/postgresql/8.2/bin/pg_ctl -l /tmp/pg.log start
server starting

PostgreSQL will detect the file recovery.conf, and start automatic recovery:

$ tail -f /tmp/pg.log
LOG: database system was interrupted at 2008-01-06 15:01:57 CET
LOG: starting archive recovery
LOG: restore_command = "cp /tmp/wals/%f %p"
LOG: recovery_target_time = 2008-01-06 15:31:00+01
cp: cannot stat `/tmp/wals/00000001.history': No such file or directory
LOG: restored log file "00000001000000000000000F.0074F118.backup" from archive
LOG: restored log file "00000001000000000000000F" from archive
LOG: checkpoint record is at 0/F74F118
LOG: redo record is at 0/F74F118; undo record is at 0/0; shutdown FALSE
LOG: next transaction ID: 0/618; next OID: 24582
LOG: next MultiXactId: 1; next MultiXactOffset: 0
LOG: automatic recovery in progress
LOG: redo starts at 0/F74F168
LOG: restored log file "000000010000000000000010" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000011" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000012" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000013" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000014" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000015" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000016" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000017" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000018" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000019" from archive
LOG: restored log file "00000001000000000000001A" from archive
LOG: restored log file "00000001000000000000001B" from archive
LOG: restored log file "00000001000000000000001C" from archive
cp: cannot stat `/tmp/wals/00000001000000000000001D': No such file or directory
LOG: could not open file "pg_xlog/00000001000000000000001D" (log file 0, segment 29): No such file or directory
LOG: redo done at 0/1CFFFD70
LOG: restored log file "00000001000000000000001C" from archive
LOG: archive recovery complete
LOG: database system is ready

If you specified the correct recovery_target_time, you will be able to restore your database just at the moment before dropping the table dummy3:

test=# \d
List of relations
Schema | Name | Type | Owner
--------+--------+-------+----------
public | dummy1 | table | postgres
public | dummy2 | table | postgres
public | dummy3 | table | postgres
(3 rows)

After recovery, PostgreSQL will rename recovery.conf to recovery.done.

Friday, August 6, 2010

PROFESIONALISME TNI DALAM MENGATASI KONFLIK LAF DAN IDF DI LEBANON SELATAN

PROFESIONALISME TNI DALAM MENGATASI KONFLIK LAF DAN IDF DI LEBANON SELATAN
06 Agu 2010

PUSPEN (6/8),- Prajurit Satgas Yon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indobatt) dengan sigap bertindak profesional dan imparsial dalam mengemban tugas serta tanggung jawabnya selaku Peacekeeper saat terjadi ketegangan antara IDF (Israeli Defence Forces) dan LAF (Lebanese Armed Forces) di salah satu Observation Post (OP) di daerah Al-Adaisse yang terkenal dengan sebutan ”Panorama Point” dan masih dalam Area of Responsibility (AOR) Indobatt di Lebanon Selatan, Selasa (3/8).

Menurut Komandan Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion/Indobatt), Letkol Inf Andi Perdana Kahar, tindakan menengahi yang sangat berani dilakukan oleh prajurit TNI berawal dari rencana kegiatan pemotongan batang pohon cemara yang tumbang dan mengenai pagar/Technical Fence oleh pihak IDF (Israeli Defence Forces). Kegiatan IDF ini tidak disetujui LAF (Lebanese Armed Forces) dan mendapat tentangan, karena menurut LAF pohon tersebut berada di wilayah negaranya. Walaupun kegiatan ini telah dipantau dan mendapatkan ijin dari UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) selaku pemegang mandat pemelihara perdamaian di wilayah Lebanon Selatan, namun pada kenyataannya kegiatan IDF di lapangan ini mendapatkan tentangan yang sangat keras dari LAF serta memicu ketegangan antara kedua belah pihak.

Lebih lanjut Komandan Indobatt menyatakan, sebagai pasukan penjaga perdamaian, Kompi A Indobatt telah melakukan segala upaya prosedural se-maksimal mungkin untuk meredakan situasi. Upaya negosiasi kedua pihak di lapangan yang dimediasi oleh Indobatt dan Liaison Officer (LO) dari markas UNIFIL, telah dilakukan selama kurang lebih 4 (empat) jam. Demi meredakan ketegangan yang terjadi, Danki A Indobatt Kapten Inf Fardin Wardhana mengambil resiko meloncati pagar pengaman jalan, kemudian turun mendekat ke area Blue-Line yang belum sepenuhnya bersih oleh ranjau (UXO), dengan mengibar-ngibarkan bendera PBB dan berdiri di tengah-tengah kedua belah pihak yang sedang berhadap-hadapan dengan bersenjata lengkap (pointing). Bukan hanya itu saja, anggota Tim Kompi A Indobatt yang saat itu berjaga-jaga di Observation Post (OP) tersebut, seluruhnya membantu dengan mengibarkan bendera sambil mengangkat tangan serta meminta kepada kedua pihak agar dapat menahan diri dan dapat mencari kata sepakat mengenai pemotongan pohon cemara tersebut.

Menurut keterangan yang diperoleh dari saksi mata Lettu Inf Arief Widyanto, selaku Perwira Force Protection Indobatt yang saat itu berada di tempat kejadian, dijelaskan bahwa situasi menjadi makin menegangkan dan sangat tidak terkendali saat salah satu pihak melepaskan tembakan. Tembakan tersebut selanjutnya memicu terjadinya kontak tembak antara IDF dan LAF. Sesuai prosedur, prajurit Indobatt melakukan tindakan taktis mencari tempat perlindungan di sekitar lokasi kejadian saat terjadi baku tembak antara LAF dan IDF. Sesuai dengan perintah Komando, prajurit Indobatt kemudian melaksanakan pengunduran diri mencari posisi berlindung yang aman dan menunggu perintah lebih lanjut. Baku tembak ini melibatkan dua pesawat Heli Apache dan 3 (tiga) Tank ”Markava” IDF, yang melepaskan tembakan ke arah kedudukan pasukan LAF.

Situasi pertempuran yang makin hebat dan membahayakan personel Unifil dalam hal ini Indobatt, memaksa Markas Komando Sektor Timur Unifil mengambil keputusan dan memerintahkan Komandan Indobatt untuk menarik personel Indobatt yang berada di lokasi kontak tembak ke posisi yang lebih aman sambil tetap memonitor keadaan. Dalam proses penarikan pasukan tersebut, personel Kompi A Indobatt terpecah menjadi dua kelompok yang terpisah satu sama lain karena gencarnya tembakan yang dikeluarkan oleh kedua pihak dalam pertempuran tersebut. Satu kelompok ke arah Al-Adaisse dan kelompok yang lain ke arah Kafer Kela. Dari hasil pengecekan personel, didapati masih ada dua personel yang belum diketahui keberadaannya dan putus kontak dengan induk pasukan.

Selama satu jam lebih, keberadaan dua prajurit tersebut ternyata masih berada di lokasi peristiwa kontak senjata. Kedua prajurit Indobatt ini, terjebak dalam kontak senjata kedua belah pihak dan hanya bisa berlindung di balik bangunan tanpa dapat malakukan pengunduran dari daerah pertempuran. Setelah kontak tembak sedikit mereda Kopda Zulkarnain dan Praka Oksa berusaha mencari pasukan kawan ke arah Kafer Kela yang merupakan Area of Responsibility (AoR) Spain Battalion. Kedua prajurit ini tidak bertemu dengan satupun anggota Peacekeeper yang diharapkan berada di pos pengamatan Spainbatt, karena telah ditarik mundur oleh Komando Atas.

Dari keterangan kedua prajurit tersebut, mereka memutuskan untuk menuju ke arah Fatima Gate, persimpangan jalan dimana terdapat OP (Observation Post) Spainbatt lainnya. Sama seperti kejadian pada pos sebelumnya, mereka tidak menemukan satupun anggota UN yang siaga di tempat tersebut. Dalam keadaan putus hubungan komunikasi dengan pasukan induk serta tanpa mengetahui situasi terakhir, mereka menerima bantuan salah satu masyarakat Lebanon yang bersedia mengantarkannya ke markas Indobatt UN Posn 7-1 desa Adshit Al-Qusayr yang berjarak 15 Km dari Fatima-Gate.

Dari peristiwa kontak tembak antara LAF dan IDF telah jatuh korban dari kedua belah pihak. Dari pihak Lebanon, tiga anggota LAF dan satu orang jurnalis AL-Akhbar Lebanese tewas di tempat. Sedangkan dari pihak IDF, dua orang Perwiranya menjadi korban dan meninggal dunia. Untuk pihak Indobatt sendiri, tidak ada kerugian personel maupun material. Hal ini dikarenakan kesigapan prajurit Indobatt dalam melaksanakan tindakan pengunduran pasukan sesuai dengan STIR (Standardize Tactical Incident Reaction) yang dilakukan berdasarkan perintah Komando Atas dalam hal ini oleh Sektor Timur UNIFIL.

Push Administration/Registration/Login Prestashop using SSL

Coz, someone ask how to make administration,login page using SSL in id-freebsd milis, I am trying for Prestashop and make some modification in preference and code. The modification code is in the login.php in admin folder(I got it from http://www.netshinesoftware.com/security/using-an-ssl-certificate-with-your-joomla-website.html)

add the following code in login.php

//Redirect to https if accessed over http (except when running locally)
if ($_SERVER['SERVER_NAME'] != "localhost")
{
$port = $_SERVER["SERVER_PORT"];
$ssl_port = "443"; //Change 443 to whatever port you use for https (443 is the default and will work in most cases)
if ($port != $ssl_port)
{
$host = $_SERVER["HTTP_HOST"];
$uri = $_SERVER["REQUEST_URI"];
header("Location: https://$host$uri");
}
}

The code above is if the origin port is not equal to the ssl port so redirect to the location of https://$host$uri

That script will push using port 443 if the origin site are in port 80.

And below is for registration and login in prestashop. Simple just go to preference in admin page.
Just enable to Yes.

Enable SSL Yes No

If your hosting provider allows SSL, you can activate SSL encryption (https://) for customer account identification and order processing

Or you can using rewrite module in apache. Please read the http://www.askapache.com/htaccess/apache-ssl-in-htaccess-examples.html for good explanation.

Tuesday, June 8, 2010

Teknologi Karburator Vakum di Sepeda Motor

Teknologi Karburator Vakum di Sepeda Motor
aji — Sat, 05/01/2008 - 22:45

* motor
* otomotif

Berbeda dengan kendaraan roda empat yang sudah banyak mengadopsi teknologi pasokan bahan bakar injeksi, rata-rata sepeda motor yang dijual di Indonesia masih menggunakan sistem karburator. Meski begitu, teknologi karburator yang dipakai sudah lebih canggih dibandingkan model konvensional dengan penambahan beberapa penemuan baru. Karburator modern ini memiliki keunggulan pada konsumsi bahan bakar yang irit dan emisi gas buang yang lebih ramah lingkungan.

Saat ini pabrikan sepeda motor banyak menggunakan teknologi karburator jenis Constant Velocity (CV) atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan nama karburator vakum. Sepeda motor bebek model terbaru, sudah dilengkapi piranti karburator vakum. Bahkan teknologi karburator vakum berkembang menjadi varian New Constant Velocity (NCV), yang dipasang pada sepeda motor bebek bermesin 130 cc.

Karburator bagi sepeda motor adalah bagian yang vital. Perangkat ini berfungsi mengabutkan bensin agar lebih mudah terbakar di ruang bakar silinder. Karburator dilengkapi pelampung, katup jarum, baut penyetel udara, jarum skep, dan pompa percepatan. Setiap komponen punya tugas sendiri-sendiri.

Pelampung misalnya, berfungsi mengatur tinggi rendahnya bensin dalam ruang pelampung karburator. Tinggi rendahnya permukaan bensin itu dipengaruhi oleh lidah pelampung. Pelampung yang bocor bisa membuat karburator kebanjiran bensin. Piranti yang mengatur keluar masuknya bahan bakar pada karburator adalah skep berbentuk jarum.

Karburator vakum (CV) bisa disebut satu tahap lebih maju dibandingkan teknologi lama. Mekanisme kerja karburator vakum memang berbeda dengan karburator konvensional atau Venturi Meter (VM). Bukaan skep karburator model CV diatur berdasarkan kavakuman di ruang bakar atau tekanan udara antara inlet dan manifold, bukan oleh tarikan kabel gas seperti pada karburator tipe VM.

Besar kecilnya perbedaan tekanan udara diatur oleh skep kupu-kupu yang berhubungan dengan kabel gas. Jadi pergerakan kabel gas tidak langsung membuka skep karburator, tetapi membuka skep kupu-kupu lebih dahulu baru kemudian membuka skep utama. Pada teknologi karburator CV, buka-tutup kabel gas hanya sebagai pemancing saja. Sementara membran karet karburator CV menjadi alat pengatur otomatis permintaan bahan bakar.

Naik turun jarum skep pada karburator CV ditentukan oleh kevakuman di ruang bakar. Saat putaran mesin masih rendah dan tingkat kevakuman rendah, skep hanya membuka dengan lubang yang kecil. Begitu putaran mesin naik dan tingkat kevakuman meningkat, skep akan membuka lebar-lebar untuk mengalirkan bahan bakar. Permintaan bahar bakar pun akan sesuai dengan keperluan mesin, sehingga konsumsinya jauh lebih hemat dibandingkan karburator konvensional.

Dibalik kecanggihan teknologinya, karburator CV juga memiliki kelemahan, yaitu lambat pada akselerasi awal. Penyebabnya saat putaran mesin rendah, skep akan membuka rendah pula. Otomotis bahan bakar yang masuk ke ruang bakar tidak begitu banyak sehingga tenaga yang dikeluarkan tidak besar.

Walaupun gas dipelintir dalam-dalam, skep karburator tidak akan membuka secara spontan mengikuti putaran grip gas. Yang terjadi adalah udara dipaksa masuk sebanyak-banyaknya ke dalam ruang bakar, sedangkan debit bahan bakar sedikit. Hasilnya pembakaran pun tidak optimal dan tenaga seperti kosong sesaat. Tenaga baru akan mengisi kembali pada durasi waktu sekira 1 detik.

Teknologi karburator NCV lebih canggih lagi. Alasannya alat ini sudah dilengkapi dengan sensor yang mampu menyediakan waktu pengapian sesuai besaran campuran bensin - udara yang masuk ke dalam ruang bakar.

Sensor canggih ini diberi nama piranti throttle position sensor. Alat ini langsung berinteraksi dengan skep vakum karburator. Tugas piranti ini adalah membaca posisi skep kupu-kupu saat mesin hidup. Sinyal yang dibaca sensor akan disalurkan ke perangkat CDI. CDI pun akan mengatur waktu pengapian yang tepat di ruang bakar.

Jika gas baru dibuka maka letupan pada busi tidak terlalu besar. Sebaliknya kalau bensin mengalir besar, maka busi diperintahkan untuk menyala dengan arus yang lebih tinggi, sehingga pembakaran pun jadi sempurna.

Piranti ini tidak bekerja sendiri, tetapi tergantung pada sebuah chip yang dipasang di luar skep. Chip ini terdiri dari tiga kabel, yaitu in, out, dan ground yang dihubungkan dengan piranti CDI. Begitu grip gas ditarik, CDI akan langsung membaca untuk memberikan pengapian yang sesuai dengan putaran grip gas.

Meski canggih, namun piranti throttle position sensor juga memiliki kelemahan. Kalau rusak, maka waktu pengapian yang terbaca adalah pada posisi terakhir dan tidak lagi mengikuti kerja skep. Imbasnya konsumsi bahan bakar pun bisa tidak efisien lagi

Monday, March 15, 2010

Windows Media Player stops responding after I install a third-party

After install the third party software, I got problems, the Windows Media Player stop responding. Here is to fix, got this from Microsoft website.

Windows Media Player stops responding after you install a third-party product that registers its own version of the Wmp.dll file
View products that this article applies to.
Support for Windows Vista without any service packs installed will end on April 13, 2010. To continue receiving security updates for Windows, make sure you're running Windows Vista with Service Pack 2 (SP2). For more information, refer to this Microsoft web page: Support is ending for some versions of Windows (http://windows.microsoft.com/en-us/windows/help/end-support-windows-xp-sp2-windows-vista-without-service-packs)

Important This section, method, or task contains steps that tell you how to modify the registry. However, serious problems might occur if you modify the registry incorrectly. Therefore, make sure that you follow these steps carefully. For added protection, back up the registry before you modify it. Then, you can restore the registry if a problem occurs. For more information about how to back up and restore the registry, click the following article number to view the article in the Microsoft Knowledge Base:
322756 (http://support.microsoft.com/kb/322756/ ) How to back up and restore the registry in Windows


To resolve this issue yourself, follow these steps:

1. Log on as an administrator.
2. Click Start, type cmd in the Start Search text box, right-click cmd.exe, click Run as administrator, and then click Continue.
3. At the command prompt, type regsvr32 wmp.dll, and then click OK.
4. Start Notepad.
5. Paste the following text into Notepad:

REGEDIT4
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA71-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.WMZ"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA72-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.AIFF"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA73-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.AU"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA74-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.MIDI"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA76-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.MP3"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA77-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.MP3"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA78-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.M3U"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA7B-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.WAV"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA83-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.WAX"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA84-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.WMA"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA88-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.AVI"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA89-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.MPEG"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA8F-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.ASX"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA90-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.ASX"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA92-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.ASF"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA93-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.ASX"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA94-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.WMV"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{CD3AFA95-B84F-48F0-9393-7EDC34128127}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.WVX"
[HKEY_CLASSES_ROOT\CLSID\{EE4DA6A4-8C52-4a63-BBB8-97C93D7E1B6C}\ProgID]
@="WMP11.AssocFile.WMD"

6. Save the file as VistaWMPFix.reg.
7. Start Registry Editor.
8. Click File, and then click Import.
9. Select the VistaWMPFix.reg file that you created in step 6, and then click OK.

Back to the top

or you can use Fix it for me.

Friday, February 12, 2010

Pass Project Management I

Congratulation..! You've passed.
Selamat untuk perserta yg telah berhasil lulus kelas "Introduction to Project Management". Semoga materi yg anda pelajari dapat meningkatkan pemahaman saudara ttg Project Management.

1. Agoes Wijoedo
2. Antonius Sony Eko Nugroho
3. Arif subagyo
4. Bambang B. Santoso*
5. Bambang Susilo
6. Bistok R L Tobing
7. Darmawan Xie
8. David Sunarja
9. Eldo Gultom
10.Firman Indra Buana
11. Hari Wahyudi
12. Harmijanti
13. Hilman Fuady
14. Luthfi Hidayat
15. Meiko Hutauruk
16. Mohamad Wahyu Pratama*
17. Nur Rukiati
18. Rachmadi Indrapraja
19. Ria Wiliams
20. Rizka Yuliansari
21. Rizki Firmansyah
22. Robiton
23. Setiawan Hadiswoyo*
24. Suhadak Suhadak
25. Sukma Wardhana
26. Teuku Faruq
27. Wadiyo
28.Wiki Ilyas

Seperti yg saya janjikan, bahwa 3(tiga) orang terbaik (Bambang B. Santoso, M. Wahyu Pratama dan Setyawan Hadiswoyo), berhak untuk mengikut kelas pelatihan selajutnya secara cuma-cuma. Sekali lagi mohon maaf bila kekurangan selama training. Masukan dan kritik saudara kami nantikan untuk kemajuan bersama. Sampai bertemu lagi dikelas "Advanced Project Management".

Terima Kasih
Jardia, PMP

Sunday, August 30, 2009

Pengalaman Berlatih, Kostrad Dan Ranger Malaysia

Kemarahan masyarakat Indonesia terhadap Malaysia yang menggunakan tari pendet dalam sebuah iklan pariwisata berimbas kemana-mana. Tari Pendet diketahui muncul dalam sebuah iklan promosi yang diproduksi rumah produksi KRU Sdn Bhd. Rumah produksi itu membuat enam film dokumenter Enigmatic Malaysia yang disiarkan di 23 negara di seluruh dunia. Pihak KRU menegaskan, mereka memang memproduksi program Enigmatic Malaysia, tetapi iklan promosi dibuat oleh Discovery Channel yang bermarkas di Singapura. “Iklan promosi serial dokumenter Enigmatic Malaysia bukan dibuat kami tapi dibuat sendiri oleh Discovery Channel,” kata Presiden dan CEO Group KRU Sdn Bhd Norman Abdul Halim di KBRI Kuala Lumpur. Norman selanjutnya mengatakan “Kami baru tahu bahwa ada protes dan kemarahan rakyat Indonesia atas promosi itu kemarin ketika wartawan-wartawan Indonesia menghubungi saya. Kami telah menghubungi Discovery Channel kemudian mereka telah menarik promosi itu dan menggantinya dengan yang baru,” kata Norman.

Masalah menjadi serius dalam kaitan hubungan dilomatik kedua negara. Presiden SBY mengaku, baru kali ini selama pemerintahannya, merespons secara langsung isu kebudayaan yang diklaim Malaysia. “Untuk pertama kalinya sejak lima tahun ini saya beri pernyataan terkait ini,”katanya. Menurut presiden, klaim kebudayaan milik Indonesia oleh Malaysia, seperti tari pendet, bukan merupakan kejadian yang pertama kalinya. “Dengan semangat, kita ingin menjaga hubungan baik antara Indonesia dan Malaysia, berkaitan dengan isu tari pendet yang menjadi bagian dari iklan di Malaysia, ke depan Pemerintah Malaysia harus memberikan atensi,memelihara hubungan baik kita,” ujar Presiden SBY dalam keterangan persnya di Kantor Kepresidenan, Jakarta Selasa (25/8).

Menbudpar Jero Wacik mengatakan, saat ini pihak rumah produksi pembuat iklan pariwisata Malaysia telah mengirimkan surat permintaan maaf secara tertulis. Namun, ujar dia, permintaan maaf yang hanya melalui surat elektronik itu tidak bisa diterima begitu saja. “Saya sudah terima (permintaan maafnya) tapi saya tidak mau terima. Saya mau dengar dari pemerintahnya dulu.

Nah, fakta diatas adalah kasus dalam masalah budaya dan pariwisata. Dimana Malaysia kita pandang sebagai negara yang sering berbuat seenaknya kepada Indonesia. Istilah serumpun nampaknya tidak ada artinya diantara kedua negara. Sejarah pernah merekam sebuah konfrontasi fisik militer kedua negara. Hal ini kadang sulit dihilangkan, bahkan Malaysia sering agak merendahkan Indonesia, walau dibelakangnya tetap ada rasa takut dan was-was. Penulis pada saat masih aktif bertugas selalu berhati-hati pada bidang militer apabila berurusan dengan militer Malaysia. Senyum manis dimuka mereka belum tentu berarti manis dan tulus dihati, inilah sedikit pengalaman masa lalu.

Penulis oada tahun 1992, saat berpangkat perwira menengah mendapat tugas dalam sebuah Satuan Tugas Udara (Satgasud) sebagai perwira intelijen dalam Latihan Bersama antara TNI dengan Tentera Darat Malaysia. Sebagai home base pasukan TNI ditetapkan di Pangkalan TNI AU Medan (Pangkalan Aju) dan Pulada (Pusat Latihan Tempur Tentera Darat Malaysia) di Johor Bahru. Saat geladi Posko, personil Satgasud serta Kelompok Komando Batalyon 328 Kostrad bersama Kelompok Ranger Tentera Darat Malaysia berkumpul bersama di Pulada. Dari TNI AD, pimpinan komando dibawah kendali Letkol TNI Prabowo Subijanto. Satgasud dan Pokdo Kostrad mengikuti briefing dan persiapan penerjunan dan penyerangan di Pulada dari Kelompok Komando Tentera Darat Malaysia. Skenario latihan, Satgasud TNI AU mendapat tugas untuk menerjunkan batalyon 328 disebuah DZ (dropping zone) yang telah ditetapkan, dimana Pasukan Ranger Malaysia juga akan diterjunkan ditempat yang sama dengan pesawat Tentera Udara Diraja Malaysia. Setelah mendarat maka kedua pasukan masing-masing bergerak menuju kesasaran tertentu, bertanding kecepatan untuk melakukan penyerangan. Sasaran dikatakan markas musuh yang diperkuat dengan tank.

Saat di Pulada, penulis yang bertanggung jawab memberikan informasi intelijen tentang DZ, baik cuaca, medan, koordinat, elevasi, arah angin, kondisi serta panjang DZ, dan musuh, berdiskusi dengan Letkol Prabowo dan staf intel batalyon. Karena yang menentukan DZ dari Malaysia, penulis sangat mewaspadai dan ragu tentang kondisi DZ yang mereka sebutkan panjangnya 4,5 km. Prabowo juga agak mengkhawatirkan, karena pihak TNI sama-sama buta terhadap kondisi DZ, tidak diijinkan meninjau. Pesan Letkol Prabowo saat itu, mohon dalam menerjunkan pasukan benar-benar dihitung agar pasukannya selamat dan tidak jatuh korban. Jatuhnya korban dalam latihan antar negara jelas akan mencemarkan nama baik.

Pada hari H-1, Satgasud bergeser ke Lanud Medan untuk persiapan penerjunan. Pada malam hari sekitar pukul 21.00 WIB sesuai skenario, diberangkatkan satu tim Dalpur (Pengendali Tempur dari Den Bravo, Paskhasau), dengan pesawat F-27, diterjunkan ke DZ di daerah Johor Bahru. Penulis yang bertanggung jawab dalam memberikan informasi DZ, menekankan kepada Dalpur agar melaporkan DZ setelah mendarat. Yang agak dikhawatirkan adalah gagalnya hubungan komunikasi. Alhamdulillah komunikasi lancar, dari laporan Dalpur, ternyata benar kecurigaan semula, panjang DZ yang dikatakan Kolat (komando Latihan) Malaysia sepanjang 4,5 km ternyata panjangnya hanya 1,5 km. Kemudian tidak pernah disebutkan data adanya rawa-rawa dimana terdapat potongan pohon yang mirip tombak.

Dari laporan intelijen tersebut, di lakukan perubahan skenario penerjunan. Penulis menyarankan ke Dan Satgasud agar pasukan tidak diterjunkan dalam satu “run” (satu kali) tetapi disesuaikan dengan tanda tutup penerjunan yang dipasang oleh Dalpur. Karena ini latihan, kesepakatan antara Satgas kedua negara akan kita langgar demi keselamatan pasukan. Toh ini bukan perang, pikir penulis saat itu. Kalau kondisi pertempuran sebenarnya, untuk menghindari jatuhnya korban pesawat tertembak senjata penangkis serangan udara, tanpa kompromi penerjunan tetap harus dilakukan dalam satu run. Pada jam lima pagi hari, lima Hercules TNI AU “airborne” dari Lanud Medan menuju ke DZ di Johor, mengangkut pasukan Yon-328. Penerjunan disaksikan oleh Deputy Operasi Kasau di sasaran. Pada saat penerjunan pasukan, tiga Herky (Hercules) long body terpaksa menerjunkan dalam tiga run, dua Herky dalam dua run. Setelah pasukan mendarat, Alhamdulillah, Satgasud mendapat laporan semua anggota yang diterjunkan selamat. Ternyata AU Malaysia juga tidak melakukan penerjunan dalam satu “run” seperti rencana saat geladi, mereka melakukan dalam dua run.

Dikisahkan, pasukan Yon-328 dalam menuju sasaran rutenya berbeda dengan pasukan Ranger Malaysia, pasukan kita diarahkan rute sulit melalui pegunungan, sementara Ranger medannya relatif rata. Yang tidak mereka ketahui ternyata digunung itu banyak penduduk Indonesia asal Jawa, sehingga mereka justru menjadi pandu pasukan TNI. Akhirul cerita, pasukan TNI ternyata lebih cepat sampai di sasaran dan mampu menemukan dan melumpuhkan Tank yang ternyata juga dipendam. Itulah keampuhan fisik anggota Yon-328 dan kerjasama dengan penduduk.

Keberhasilan penerjunan dan penyerangan ternyata berbuntut panjang, seluruh pejabat Satgasud mendapat teguran Deputy Operasi, karena menerjunkan tidak sesuai dengan rencana semula. Kamipun menjelaskan, AU Malaysia juga menerjunkan tidak dengan satu run. Dapat dibayangkan apabila informasi terakhir dari Dalpur tidak masuk, keputusan yang diambil Komandan Satgasud salah, maka dua pertiga pasukan kita diperkirakan akan jatuh kedalam rawa bertombak tadi, entah berapa korban akan jatuh dari pasukan kebanggaan kita itu. Yang jelas dalam latposko, tentera Malaysia itu tidak jujur, menyembunyikan dan menyesatkan data yang sebenarnya. Alhamdulillah, Allah Swt masih melindungi Satgasud dan anggota Yon-328.

Nah, pelajaran apa yang didapat dari kisah diatas?. Kesimpulannya adalah, kita memang harus lebih berhati-hati apabila berhubungan dengan Malaysia, dalam latihan bersama saja mereka menyesatkan data. Rupanya tetap saja ada rasa persaingan mereka, kecemburuan, kurang jujur dan selalu ada upaya memanfaatkan. Kasus klaim budaya adalah contoh jelas agar kita harus lebih waspada, kasus Sipadan Ligitan adalah bukti bahwa kita dikalahkan mereka di forum internasional, kasus Ambalat yang mereka serempet-serempet membuat kita tidak suka, belum lagi kasus-kasus TKI yang diperlakukan semena-mena. Dan kita makin dibuat kesal karena dua tokoh teroris yang mengacak-acak kita juga berasal dari Malaysia. Disinilah semestinya kita mengadakan introspeksi, apa mereka yang terlalu pintar atau kita yang tidak pandai?.

Malaysia selalu memandang Indonesia sebagai rival yang paling menakutkan baik dari segi politis, militer dan geografis, yang dianggap memelihara pasukan besar diperbatasan. Mereka melakukan hal yang lebih. Dari empat Divisi Tentera Daratnya, yang masing-masing Divisi terdiri dari dua Brigade, dua dari empat divisi tersebut ditempatkan disekitar teluk Malaya, sementara Divisi ke-3 bertugas untuk mempertahankan wilayah Kalimantan Utara. Hanya Divisi ke-4 yang bertugas mempertahankan sekitar wilayah Brunei. Itu artinya Malaysia selalu bersiap dan memandang Indonesia sebagai ancaman.

Indonesia negara yang cinta damai, tidak memandang Malaysia sebagai ancaman, sebagai pengganggu mungkin iya. Oleh karena itu, dengan sudah turun gelanggangnya Bapak Presiden, kita semua wajib juga memikirkan dengan cermat tentang Malaysia ini, agar kita tidak kecolongan lagi. Kalau tidak mau diakali dan dibodohi Malaysia, ya kita harus lebih pintar dari mereka, berbuatlah, jangan hanya marah-marah saja. Begitu bukan?.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Thursday, July 30, 2009

KRI Diponegoro manuvra di Lebanon

Area Of Maritime Operations,- Minggu pagi yang sangat cerah dibarengi dengan kondisi lautan yang sangat bersahabat, sementara nun jauh disana sejumlah unsur yang tergabung dalam Maritime Task Force (MTF) terlihat membentuk beberapa formasi dan sangat kompak ketika melaksanakan suatu manuvra dari satu bentuk formasi ke bentuk formasi lainnya. Ini tentu bukan suatu latihan yang mudah bagi setiap pengawak kapal yang terlibat karena dibutuhkan Sumber Daya Manusia yang professional dan terlatih.



“Ada tiga buah formasi yang dilatihkan yaitu Formasi awal (Berbanjar) yang merupakan kegiatan persiapan untuk membentuk formasi selanjutnya, Formasi Diamond dan Formasi Star burst”, ujar Komandan Satgas Maritime Task Force (MTF) yang juga sekaligus sebagai Komandan KRI Diponegoro-365 Letkol Laut (P) Arsyad Abdullah.

Dan secara keseluruhan kegiatan ini diabadikan melalui photoex (photo exercise) yang diambil dari udara oleh hellikopter witch milik Italia. Setiap formasi diberikan selang waktu untuk mempertahankan posisi tersebut untuk memberikan kesempatan kepada fotographer melaksanakan tugasnya dengan pengambilan dari berbagai angle.

Sementara itu menurut Kepala Departemen Operasi (Kadepops) Kapten Laut (P) Aminudin Albek, untuk melaksanakan latihan ini terlebih dahulu telah dilaksanakan briefing yang idealnya dilaksanakan di darat atau sebelum kapal berlayar. Namun karena seluruh unsure sedang berada di laut sehingga briefing yang dilaksanakan dalam bentuk virtual atau dengan mengirimkan materi latihan ke masing-masing unsure melalui email untuk dipelajari. .

Unsur-unsur yang terlibat dalam latihan ini adalah Scirocco milik Angkatan Laut Italia, KRI Diponegoro-365 (Indonesia), TCG Mizrak dan TCG Gurbet milik Turki, Machitis (Yunani), serta Dachs, Hermelin dan Rhein milik Angkatan Laut Jerman. Termasuk untuk pengambilan foto udara dilakukan oleh helicopter witch yang on board di Scirocco.

Tidak hanya photoex saja, namun latihan masih berlanjut hingga pukul 5 sore dengan serial Misceleneous exercise dengan bentuk maneuver. Latihan ini lebih ditujukan untuk melaksanakan missi MTF yang kedua yaitu memberikan pelatihan kepada Angkatan Laut Lebanon untuk meningkatkan kemampuannya. Ada lima buah kapal yang terlibat dalam latihan ini dan tiga diantaranya Sour, Damour dan Tabarja adalam milik Angkatan laut Lebanon. Sementara sisanya adalah Scirocco sebagai kapal markas dan KRI Diponegoro-365.

Materi yang dilatihkannyapun sangat simple/sederhana karena mereka hanya memiliki kapal yang sangat terbatas dengan kecepatan dan tipe yang kecil. Namun demikian diharapkan mereka paling tidak familiar dengan prosedur manuvra di laut meski kapal mereka terbatas.

Beberapa foto lainnya dari latihan ini diambil dari UNIFIL-PIO yang meliput dari kapal lainnya.








Friday, July 24, 2009

Tanggapan Bambang Dharmono atas tulisan JK

Benarkah GAM menyerahkan senjata dalam keadaan terpotong-potong?
Oleh : Letjen TNI Bambang Darmono

Wakil Presiden Jusuf Kalla, melalui blognya di Kompasiana.com, telah merilis artikel berjudul “Kisah di balik layar damai Aceh”. Sebagai pelaku sejarah, yang juga mantan Pangkoops TNI di Aceh serta Komandan Satgas Bantuan TNI pasca tsunami melanda Aceh, 26 Desember 2004, saya juga terlibat tahap demi tahap proses perdamaian di Aceh sejak Informal meeting putaran keempat pada awal Juli 2005. Oleh karena itu saya membuat tulisan yang bertujuan meluruskan beberapa hal yang disinggung dalam tulisan tersebut.

“Kisah di balik layar damai Aceh” ditulis oleh Jusuf Kalla sebagai salah satu tokoh yang ikut memprakarsai proses damai Aceh. Saya mengatakan ikut memprakarsai karena proses penyelesaian damai yang memang diamanatkan oleh Tap MPR RI NO VI tahun 2002 telah dilakukan oleh beberapa pejabat pemerintah lainnya, bukan hanya oleh Jusuf Kalla.

Sebut saja Abdurrahman Wahid, pada tahun 2000, yang menghasilkan kebijakan penyelesaian damai melalui “Jeda Kemanusiaan”. Proses ini berlanjut di masa pemerintahan Megawati dengan adanya penyelesaian damai melalui COHA (cessation on hostility agreement). COSA secara resmi berakhir dengan kegagalan, pada 18 Mei 2003, dalam sebuah pertemuan di Tokyo.

Secara eksplisit kandungan memorandum of understanding (MoU) Helsinki mengandung unsur semangat dan kehendak bersama yang melandasi mengapa penyelesaian damai harus dijalankan oleh kedua belah pihak. Semangat dan kehendak bersama tersebut telah diartikulasikan dalam Preambul MoU Helsinki yang secara jelas meneguhkan kebutuhan perdamaian sebagai prasyarat rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh pascatsunami. Kesepakatan Helsinki juga secara jelas menekankan pengakuan dan penghormatan atas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan UUD 1945.

Dalam pandangan saya, pengakuan dan penghormatan ini pada dasarnya merupakan pencapaian political objective tertinggi dari seluruh proses yang dilakukan oleh Pemerintah RI di Aceh. Hal ini karena apa pun yang dilakukan pemerintah, baik melalui pendekatan hard maupun soft power, sasaran politik yang utama adalah pengakuan pihak GAM terhadap keutuhan NKRI dan UUD 1945.

Pengaturan proses perdamaian secara lengkap tercantum di dalam batang tubuh MoU Helsinki. Proses inilah yang kemudian menghasilkan perdamaian di Aceh sebagaimana kita rasakan saat ini. Atas keberhasilan ini semua sepatutnya kita harus mengapresiasi kepada seluruh penggagas dan perumus MoU Helsinki.

Namun, ketika saya membaca dan memaknai keseluruhan artikel tersebut, saya mendapati ada informasi yang kurang akurat. Sebagai pelaku sejarah, saya tentu tergerak untuk mengemukakan kepada masyarakat tentang bagaimana proses tersebut sebenarnya berjalan. Langkah ini penting agar tidak memberikan pandangan yang bias dalam masyarakat, khususnya tentang bagaimana proses penyerahan senjata GAM dijalankan.

Artikel tersebut mengungkapkan bahwa GAM tidak perlu menyerahkan senjata, tetapi memotong sendiri senjatanya di tengah lapangan dan disaksikan seluruh pihak. Pernyataan tersebut tidak tepat. Kejadian di lapangan yang sesungguhnya tidak semudah dan selancar itu. Jelas dibutuhkan sebuah proses panjang yang memerlukan kegigihan dan keuletan perwakilan pemerintah RI, termasuk keseluruhan delegasi, untuk berunding dan merekomendasikan cara bertindak yang dapat disepakati oleh pihak GAM dan AMM (Aceh Monitoring Mission).

Pertimbangan utama yang dipikirkan perwakilan pemerintah RI saat itu adalah bahwa proses penyerahan senjata GAM harus transparan dan dapat diliput media. Alasannya, agar seluruh rakyat Indonesia dapat melihatnya dengan jelas atas proses penyerahan senjata pihak GAM kepada pihak AMM.

Pihak pemerintah RI harus menjadi saksi atas keseluruhan proses penyerahan senjata. Baik dari aspek jumlah, jenis senjata yang diserahkan, serta proses uji apakah senjata yang diserahkan tergolong standard atau bukan. Hal ini penting karena perlunya mengembangkan opini publik tentang tingkat kepercayaan masyarakat terhadap GAM.

Walhasil, proses decommissioning yang ditandai dengan penyerahan senjata GAM kepada AMM menyertakan saksi dari Pemerintah RI dan juga dari AMM. Para saksi memeriksa jumlah senjata yang diserahkan, meneliti jenisnya, dan menguji standarisasi senjata tersebut. Proses berikutnya setelah pemeriksaan, senjata dipotong-potong oleh petugas dari AMM. Dengan demikian, bukan GAM yang memotong-motong senjata seperti yang disebutkan dalam tulisan “Di Balik Layar Damai Aceh”.

Pada saat itu jumlah senjata yang diserahkan GAM ada 1.018 pucuk dari 840 pucuk yang harus diserahkan menurut MoU Helsinki. Pihak AMM dapat menerima sebanyak 840 pucuk, namun perwakilan Pemerintah RI hanya mengakui 769 pucuk. Ada 178 pucuk senjata yang ditolak Pemerintah RI karena tidak memenuhi ketentuan standarisasi senjata. Dari segi proses maupun jumlah senjata yang diserahkan GAM, hal ini menggambarkan keberhasilan pihak Pemerintah RI untuk dapat menarik senjata GAM sebanyak-banyaknya.

Perlu dikemukakan bahwa dalam MoU khususnya yang mengatur penyerahan senjata, Pemerintah RI hanya menyediakan tempat pengumpulan senjata. Proses penyerahan senjata hanya dilakukan antara GAM dan AMM. Tidak satu pun kalimat dalam MoU yang menentukan bahwa senjata yang diserahkan adalah senjata standard, dan bahkan tidak satupun kalimat yang memungkinkan pihak Pemerintah RI menjadi saksi dan penentu apakah senjata tersebut senjata standard atau bukan.

Namun demikian, terbukti bahwa pada pelaksanaannya, perwakilan Pemerintah RI memiliki peran dan wewenang sebagai saksi dan menguji standar senjata. Tentu saja hal ini dapat terwujud karena kegigihan seluruh delegasi perunding pihak Pemerintah RI dalam Commision on security arrangement (Cosa), khususnya pada pertemuan ke-2, 3, 4, 5 dan 6.

Salah satu penunjang keberhasilan tim perunding adalah dipahaminya kondisi kejiwaan masyarakat yang ketika itu memiliki resistensi terhadap jalannya MoU Helsinki. Sebuah hal yang bisa dipahami mengingat proses jalan damai Aceh yang ditempuh oleh Pemerintah dengan melibatkan pihak CMI dari Finlandia dan tidak didahului dengan pembicaraan dengan DPR.

Realitas wacana politik yang mengemuka saat itu adalah resistensi masyarakat atas proses MoU Helsinki dan internasionalisasi masalah domestik. Memang benar bahwa keteguhan hati untuk menjalankan agenda akan membuahkan hasil. Akan tetapi keteguhan hati yang tidak menghiraukan kondisi kejiwaan yang sedang berlaku akan mempersulit pencapaian agenda dan bahkan dapat mengagalkannya. Patut pula ditekankan bahwa hal ini adalah pencapaian bersama tim perunding, bukan hanya satu dua tokoh.

-----
Walaupun tulisan ini tulisan sewaktu ramai-ramainya kampanye pilpres, namun bagi saya sangat menarik fenomenanya. Di mana waktu kampanye JK di Aceh, JK mengeluarkan pernyataan bahwa, beliau sangat berperan dalam perdamaian aceh, namun di saat pemilu aceh, suara JK-Wiranto hanya mendapatkan 4.35 % atau 97.717 suara sah(sumber tabulasi kpu)
Dan yang paling mendapatkan suara adalah rival utama dari capres-cawapres yaitu pasangan SBY-Budiono. Lalu siapakah yang paling berperan dalam perdamaian Aceh? jawabannya adalah masing2 pihak yang terkait, mulai dari rakyat aceh, GAM, pemerintah. Bukan milik salah satu orang yang hanya pandai klaim.